Decolgen sebagai salah satu merk obat terkemuka di Indonesia menyelenggarakan sebuah acara penghargaan bagi mereka yang bergerak di bidang kesehatan. Setelah memilih dengan ketat, terpilihlah 6 orang pemenang dan 2 pemenang dengan penghargaan khusus.
Seorang dokter gigi menangani masalah bibir sumbing? Meskipun beberapa orang meragukan dan sulit untuk menerimanya, namun tak membuat ia menyerah. Memiliki seorang teman yang anaknya memiliki kelainan bibir sumbing, membuat ia sadar bahwa kelainan tersebut juga berhubungan dengan kesehatan gigi dan mulut. Seringkali penderita bibir sumbing akan mengalami pembukaan lubang pada langit-langit mulut yang dapat menyebabkan makanan masuk ke tenggorokan, atau suara sengau. Sudah ada alat yang bernama obstrurator yang mampu menangani masalah tersebut. Namun sifatnya yang permanen membuatnya sulit bagi anak-anak yang pertumbuhan giginya sangat cepat. Juga harganya yang sangat mahal sehingga tidak semua orang bisa dan mau untuk memilikinya.
Ia tidak kehabisan akal. Dengan tekun akhirnya ia menemukan sebuah modifikasi obstrurator yang lebih sederhana dan murah. Hanya dengan 500ribu rupiah, masalah tersebut dapat diatasi. Tidak habis sampai di situ, ia juga dengan sukarela terjun ke masyarakat mencari pasien, karena masih banyak masyarakat yang cenderung menutupi keadaan anaknya yang mengalami kelainan bibir sumbing. Anto mempunyai kerinduan, suatu hari nanti, alat yang dimodifikasinya ini dapat dipatenkan, dan disebarluaskan penggunaannya kepada banyak orang, sehingga akan lebih banyak lagi pasien penderita bibir sumbing dan celah langit-langit mulut, terutama yang berasal dari keluarga tidak mampu, yang dapat merasakan kebaikan dari alat yang diciptakannya ini.
Lupus? Kalau saya taunya mah salah satu tokoh anak muda yang mewarnai jagat pernovelan dan pertelevisian Indonesia jaman dulu. Tapi taukah kamu bahwa ini juga merupakan nama penyakit?
Ya, nampaknya masih banyak sekali orang yang tidak tau penyakit ini. Di situlah, Tiara Safitri merasa terketuk. Sempat menderita penyakit tersebut yang mengharuskannya berada di rumah sakit selama 9 bulan, membuat ia menyadari bahwa penderita lupus masih banyak mengalami kesulitan pada saat itu.
Setelah ditinggal suaminya, ia mendirikan Yayasan Lupus Indonesia, atas dorongan salah seorang dokter yang sangat dihormatinya. Tiara bekerja bersama beberapa relawan yang bergerak dengan sukarela dan membagikan informasi tentang lupus tidak hanya di Jakarta dan pulau Jawa, melainkan hingga ke seluruh Indonesia. Diawali oleh 100 orang anggota, saat ini Yayasan Lupus Indonesia telah berkembang hingga beranggotakan 10,800 orang anggota. Karena dedikasinya yang terus menerus bagi penyakit lupus, Tiara telah beberapa kali mendapatkan penghargaan, salah satunya adalah Lifetime Achievement dalam Kongres Internasional Lupus di Vancouver tahun 2010 yang lalu.
Tiara memang sosok perempuan yang tahu bagaimana untuk mengubah penderitaan yang sering kali menjadi alasan untuk bersedih, berbalik menjadi inspirasi yang menguatkan dan mengobarkan semangat buat orang lain.
Keterbatasan pendidikan nampaknya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk berinovasi. Begitu pula bagi Widarti. Menjadi seorang kader kesehatan di Posyandu desanya, membuat ia mulai peduli untuk meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat. Salah satu program yang dirintisnya adalah mendorong masyarakat untuk memiliki jamban dan menghilangkan kebiasaan buruk buang air di sungai. Pada awalnya ini bukanlah hal yang mudah namun karena tekadnya yang kuat dan pantang menyerah, ia berhasil mengubah kebiasaan tersebut dengan menyelenggarakan arisan jamban dan pembuatan jamban murah.
Suatu ketika suaminya terpilih sebagai seorang Kepala Desa. Hal ini ia manfaatkan untuk membina kader kader kesehatan. Untuk meningkatkan kemandirian Posyandu, berkat bantuan uang 5 juta, ia membagikan masing masing 100 itik untuk Posyandu-posyandu yang ia naungi. Hasil dari panen itik tersebut nantinya sebagian digunakan untuk menghidupi posyandu. Selain itu, setelah wabah Chikungunya mewabah di daerahnya, ia berinisiatif untuk memeriksa jentik nyamuk di rumah-rumah penduduk, dan memberikan Stiker spesial dari Bupati yang merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga yang memilikinya. Tidak hanya di situ, ia juga mencanangkan program Tabulin, Tabungan Ibu Bersalin.
Widarti, adalah sosok wanita yang tidak mudah putus asa. Ia bertekad untuk terus melanjutkan perjuangannya dalam meningkatkan kesehatan warga desa Klakah dan menyadarkan para wanita akan pentingnya kemandirian, dan tidak bergantung kepada orang lain.
Pasti kebanyakan orang tidak akan merasa senang jika diharuskan bekerja di tempat sangat terpencil, yang jauh dari fasilitas. Begitu pula yang dirasakan Eulis Rosmiati ketika ia yang belum lama menyelesaikan sekolah bidannya harus ditempatkan di Desa Ujung Genteng, di wilayah pesisir Jawa Barat. Pada awalnya ia hampir menyerah. Namun menyadari bahwa banyak warga yang membutuhkannya, timbul dalam hati Eulis, untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat Desa Ujung Genteng.
Dari situlah Eulis membuat program-program yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan warganya. Antara lain,
o Seliber (seliter beras) yaitu pengumpulan beras bagi para warga yang bekerja sebagai petani, dengan cara mengumpulkan 2 sendok beras setiap harinya (pagi dan sore), sehingga setiap bulannya diperoleh 60 sendok beras yang setara dengan seliter beras.
o Meronce Kasih: program bagi para nelayan, dengan cara mengumpulkan sekilo ikan dengan kualitas paling rendah setiap pergi melaut. o Arisan WC dan kredit WC, sehingga hingga kini hanya 5-10% saja warga di desanya yang tidak punya WC.
o Arisan Ibu Bersalin, untuk mempersiapkan ibu ibu yang akan melahirkan
Dari inovasi-inovasi dan pikiran kritis yang ia tuangkan tersebut, banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
Untuk profil lengkap Eulis Rosmiati : KLIK DISINI!
Dokter. Mengenyam pendidikan S2. Seorang staff direksi komite mutu di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Berkesempatan melanjutkan pendidikan S3. Kurang apa coba? Yak, ternyata, ada hal lain yang ingin ia lakukan semasa hidupnya. Berbagi kepada masyarakat.
Setelah sebelumnya sempat membantu kecil-kecilan di YayasanPondok Kasih milik Bu Hana, akhirnya ia bertekad mendedikasikan secara total jiwa dan raganya bagi sosial setelah melihat betapa baiknya Bu Hana terjun membantu rakyat miskin. Dari situlah dia meninggalkan jabatannya sebagai wakil direktur di sebuah rumah sakit di Surabaya dan bergabung di Yayasan Pondok Kasih pada tahun 2009.
Setiap paginya Michael harus mengunjungi tempat-tempat yang kumuh dan jauh dari kenyamanan bagi kebanyakan orang. Namun di sinilah masyarakat yang dilayani oleh Michael bertempat tinggal, yaitu di tepi sungai berair hitam yang penuh sampah, di bawah jembatan layang yang gelap dan kotor, di tepi rel kereta api, di kompleks pembuangan sampah yang menyambut kehadiran Michael dengan serbuan lalat, bahkan hingga ke kompleks pemakaman umum. Michael yang mempunyai harapan untuk tetap mengabdikan hidupnya bagi pelayanan kesehatan kaum miskin ini sepanjang hidupnya, berprinsip, bila saat ini seseorang hanya dapat menyumbangkan sedikit dari waktunya atau dananya bagi orang lain, jangan pernah menunda untuk melakukan kebaikan itu, karena kasih dan kebaikan itu hendaknya dibagikan dan bukan untuk disimpan, sehingga setiap orang pun boleh melihat dan merasakan kebaikan Tuhan melalui perbuatan kecil kita.
Untuk profil lengkap Michael Leksodimulyo : KLIK DISINI!
Setelah menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter gigi di Bandung, kecintaan dan kerinduannya akan kota kelahirannya, membuat ia mengajukan permohonan agar ditugaskan di Bukittinggi, kota kelahirannya. Dan keinginannya pun terwujud. Dan ternyata ia tidak main-main. Kedatangannya kembali ke kota asalnya bukan hanya sekedar melepas rindu, atau sekedar kembali kepada keluarganya. Dia benar-benar punya tekat dan inisiatif, untuk membangun kampung halamannya.
Salah satunya adalah mengatasi masalah penanggulangan dan rehabilitasi pecandu narkoba di daerahnya. Sebelumnya banyak masyarakat yang menentang ide mulia beliau karena menurut mereka, para pecandu narkoba adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Padahal justru menurut ia, kalau hal tersebut ditutup-tutupi dan dibiarkan, akan menyebabkan perluasan dampak narkoba seperti penyebaran virus HIV dan AIDS. Perlahan-lahan, Salvi merintis Klinik Sehati yang didirikannya di Puskesmas Biaro. Di sini ia membuka konsultasi murah untuk kalangan remaja seperti masalah reproduksi dan narkoba. Juga menyelanggarakan kegiatan penanggulangan narkoba dan rehabilitasi dengan bekerja sama dengan berbagai pihak.
Tidak hanya disitu, dengan bermodalkan 3 juta rupiah, ia pun mendirikan Radio Sehati. di salah satu ruangan mungil di lingkungan Puskesmas Biaro untuk membagikan pengetahuan bagi masyarakat tentang perilaku hidup sehat dan memberikan konsultasi mengenai hal yang berkaitan dengan kesehatan.
Sungguh merupakan sosok putri daerah yang sangat inspiratif. Mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk mengabdi pada tanah kelahiran. Tidak heran telah berhasil membawa Salvi berkali-kali terpilih menjadi dokter teladan baik di tingkat kabupaten, propinsi, hingga ke tingkat nasional.
Pengalamannya mencari tempat rehabilitasi untuk salah seorang anggota keluarganya yang terjangkit narkoba, membuat Aisah tergerak untuk terjun ke dunia penanganan para pecandu narkoba. Kedekatannya dengan seorang pecandu yang mana anggota keluarganya sendiri, membuat ia yang saat itu masih menjadi mahasiswa kedokteran menjadi tahu banyak masalah-masalah yang dialami para pecandu narkoba kebanyakan. Dari situ ia sadar, bahwa membebaskan orang dari jerat narkoba tidaklah mudah. Pun ketika mereka sudah tidak mengkonsumsinya. Keadaan depresi atau pun keadaan yang mematahkan semangat mereka dapat menyebabkan mereka kembali terjerumus ke narkoba.
Pada tahun 1998, Aisah berinisiatif untuk mendirikan paguyuban yang ia namai sebagai 'Sahabat Rekan Sebaya' yang kemudian berubah menjadi 'Yayasan Sahabat Rekan Sebaya' (YSRS) atas desakan dari orang-orang sekitarnya untuk melegalkan paguyuban yang sudah lama dibentuknya. Aisah mempunyai cara yang cukup unik untuk mengentaskan dan membebaskan para pecandu narkoba dari ketergantungannya. Ada tiga tahap yang biasanya harus dilalui para pecandu, yaitu detoksifikasi, rehabilitasi, dan fase after care.
Fase after care inilah yang membedakan pusat rehabilitasi Aisyah dengan rehabilitasi yang lain. Setelah para pecandu benar-benar sembuh dari ketergantungan, Aisyah memberikan fasilitas, memberikan wadah bagi mereka untuk mencari penghasilan. Ada yang disalurkan menjadi konselor untuk para pecandu lainnya. Juga bagi yang berminat wirausaha, ia terjunkan dalam bisnis event organizer, laundry, perbengkelan, pertenakan kelinci, dan sebagainya. Hal ini tentunya sangat positif sekali. Mereka yang sebelumnya dijauhi masyarakat, dapat kembal ke masyarakat, dan memberikan manfaat bagi sekitar, Dan juga mereka tidak perlu kesulitan dalam mencari pekerjaan. Tidak heran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan untuk Aisah, pada Hari Anti Narkoba.
Meninggalkan jabatan penting sebagai seorang Vice President di sebuah Bank Asing, dan beralih ke kegiatan sosial, tentunya merupakan keputusan besar dan memerlukan tekat kuat. Meninggalkan kesenangan pribadi demi mengabdi pada masyarakat, ini lah hal yang membuat saya kagum terhadap sosok beliau. Baginya, hidup bukanlah untuk mengejar materi semata tetapi hidup adalah untuk membantu sesama. Super sekali. Dan ini pulalah yang membuat saya kembali berpikir, mengenai tujuan hidup saya. Selama ini, saya sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan sekarang kuliah semester 2. Akan saya apakan ilmu ilmu yang telah saya dapat kan ini? Akankah hanya untuk mengejar materi semata? Atau untuk membantu sesama? Yang jelas, ibu Non Rawung telah memberikan saya inspirasi bahwa hidup bukanlah untuk mengejar materi semata. Sukses terus untuk Ibu Non Rawung dan Yayasan OBI nya. Semoga semakin banyak membantu seluruh masyarakat Indonesia!